Wahida Baharudin Upa Merenda Jalan Pembebasan

wahidabaharudinupaJika menjadi manusia maka haruslah memanusiakan manusia.
“Jangan kamu menangis,” kata seorang ibu menyampaikan pesan sang ayah kepada anak perempuannya yang tengah meringkuk dipenjara 18 tahun lalu.

Ia mendekam di bui setelah ditangkap polisi karena menjadi koordinator aksi melawan rezim Orde Baru (Orba) pada 1996.

Saat itu, ia bersama demonstran lainnya melakukan demo di depan kantor Golongan Karya (Golkar), sebuah partai yang sangat dekat dengan kekuasaan Orba. “Kami melakukan protes setelah peristiwa bentrokan 27 Juli,” katanya.

Ia adalah Wahida Baharudin Upa. Lahir di Makassar, tahun 1971, perempuan itu kini memimpin dan mengorginisir kaum miskin di kota-kota dalam wadah Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI). Anggotanya ribuan.

Perkenalan Wahida dengan dunia politik bukan terjadi saat ia mengingjak usia dewasa. Saat masih kecil, ayahnya sudah memperkenalkan Wahida dengan dunia politik. Sang ayah adalah anggota Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Saat ia pertama kali ditangkap, 18 tahun silam, partai berlambang banteng itu tengah dipimpin Soeryadi.

Namun, ia bergabung dengan partai itu sejak tahun 1992. “Orang tua saya membenarkan saya ketika terlibat di gerakan. Bahkan, ketika saya ditangkap, ayah saya bilang, sudah betul yang kamu lakukan nak,” katanya mengulang pernyataan ayahnya.

Kepada Wahida, sang ayah berpesan bahwa manusia lahir di dunia memiliki tugas yang mulia. Tugas manusia itu adalah memanusiakan manusia. “Bapak saya berpesan tidak ada gunanya hidup kalau hanya kepentingan dirinya sendiri. Itu tak ada ubahnya dengan hewan, yang hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri,” ia memaparkan.

Sejak saat itu, Wahida menjadi orang yang gelisah. Penangkapan oleh polisi tak membuatnya jera. Pertanyaan tentang sistem yang manipulatif dan tidak adil semakin memenuhi pikirannya. Pencarian jawaban atas pertanyaan itu akhirnya mengantarkannya bertemu dengan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD).

“Saya melihat di TV, mereka dikejar-kejar dan ditangkap, jadi saya semakin pengin. Saya cari-cari mereka akhirnya bertemu juga ketika saya ditugaskan untuk mengorganisir pemuda di Palu,” katanya.

Kebangkitan Perempuan
Sesampai di Makassar, Sulawesi Selatan, sepulang dari Palu, Sulawesi Tenggara, Wahida memutuskan meninggalkan PDI, partai yang ia kenal sejak kecil dari bapaknya, dan memilih bergabung dengan PRD.

Dia mulai hilir mudik membangun gerakan rakyat di Sulawesi Selatan. Bersama kawan-kawannya, Wahida mendirikan Serikat Perjuangan Buruh Makassar (SPBM). Di organisasi itu, ia dipercaya sebagai ketua.

Setahun setelah itu, organisasi buruh ini kemudian melebur menjadi Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) melalui sebuah kongres. Selepas dari SPBM, Wahida mulai mengorganisir pemuda-pemuda di kampung-kampung, terutama di kawasan Paropo, Makassar. Dari kerja-kerja ini, berdirilah Persatuan Pemuda Paropo Makassar, yang kemudian menjadi embrio Gerakan Pemuda Kerakyatan (GPK).

Pada tahun 2004, GPK melebur menjadi Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMK). Dalam sebuah kongres di Sukabumi, Jawa Barat, tahun 2008, SRMK berubah nama menjadi Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI).
Bagi Wahida, urusan gender (jenis kelamin) tidak menjadi hambatan bagi dirinya dalam memimpin organisasi. Bahkan, Wahida punya mimpi tersendiri mengenai kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia.

Saat ini, anggota SRMI sebagian besar kaum perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga. Melalui diskusi regular di kampung-kampung, beberapa ibu-ibu telah tampil menjadi pemimpin organisasi yang handal. “Sekarang pemimpin-pemimpin SRMI adalah ibu-ibu dari basis. Mereka juga menjadi orator-orator saat aksi,” ungkapnya.

Dia mengatakan, persoalan terbesar kaum perempuan adalah pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. “Secara fisik, perempuan kelihatannya lemah. Padahal sebaliknya, mereka sangat kuat karena bisa mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan, sedangkan laki-laki fokus pada satu pekerjaan,” katanya.

Wahida berujar, perempuan memiliki peran vital dalam mempersiapkan dan membentuk sebuah generasi bangsa. “Karena hanya lewat tubuh perempuanlah generasi bangsa akan dilahirkan. Jadi perempuan memiliki tanggung jawab meneruskan satu generasi,” ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan

2 thoughts on “Wahida Baharudin Upa Merenda Jalan Pembebasan

  1. Saya kagum dengan Semangat bu wahidah membantu orang2 tertindas khuSusnya kasus2 melawan pt kai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam. Wajib Dijawab! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.