PENGANTAR

Partai Rakyat Demokratik (PRD) adalah partai politik berazaskan Pancasila. Partai ini berkomitmen kuat untuk memperjuangkan Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari di lapangan ekonomi, dan berkepribadian secara budaya sebagai jalan menuju masyarakat Adil dan Makmur.

SEJARAH SINGKAT

Cikal bakal PRD bermula saat pembentukan Persatuan Rakyat Demokratik tanggal 2 Mei 1994. Ini adalah organisasi payung yang menaungi berbagai organisasi rakyat dan mahasiswa yang mulai menentang kediktatoran Orde Baru (Orba).

Pada 15 April 1996, Persatuan Rakyat Demokratik menjadi partai politik, dengan nama: Partai Rakyat Demokratik (PRD). Tidak lama kemudian, pada 22 Juli 1996, PRD mendeklarasikan did secara terbuka di hadapan rakyat Indonesia. Hari itu juga PRD meluncurkan Manifesto Politik-nya.

Saat itu, untuk mendobrak politik otoriter Orba, PRD mengusung dua tuntutan pokok, yaitu pencabutan Paket 5 UU politik 1985 dan pencabutan Dwi Fungsi ABRI. PRD juga mengkritik pendekatan ekonomi Orba yang sangat menghamba pada kapitalisme global atau imperialisme.

Lima hari setelah PRD dideklarasikan, terjadilah Tragedi 27 Juli 1996, yaitu peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI oleh massa yang digerakkan oleh penguasa Orba. Kejadian ini memicu kemarahan massa rakyat. Di sejumlah kota,  terutama Jakarta, meletus kerusuhan massa. Ironisnya, penguasa Orba menjadikan momentum itu untuk memukul PRD.

Tetapi PRD tidak menyerah. Menjelang Pemilu 1997, PRD memotori penyatuan semua kekuatan oposisi, termasuk di tubuh PDI dan PPP, di bawah payung koalisi Mega-Bintang-Rakyat (MBR). PRD juga menginisiasi pembentu-kan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) sebagai alat untuk memobilisasi partisipasi rakyat untuk mengontrol pemilu 1997.

Tahun 1997, krisis ekonomi melilit Asia, termasuk Indonesia. Keadaan ekonomi makin memburuk: harga kebutuhan pokok meroket, PHK massal, dan lain-lain. Keadaan itu pula yang mendorong ketidakpuasan meluas di tengah rakyat terhadap Orba. Perlawanan rakyat pun mengalami pasang naik. Puncaknya, pada bulan Mei 1998, gerakan mahasiswa dan rakyat berhasil melengserkan Suharto.

Setelah Suharto lengser, kiprah politik PRD tidak surut. Tahun 1999, pemilu bebas pertama sejak 1955 digelar. PRD turut ambil bagian dalam pemilu itu sebagai peserta (kontestan) dengan nomor urut: 16. Memang, kiprah pertama PRD di medan elektoral ini belum mencapai hasil memuaskan.

Sejak tahun 1999, PRD juga mulai bersuara keras menentang kebijakan neoliberalisme, seperti pencabutan subsidi sosial, privatisasi, liberalisasi perdagangan, dan lain-lain, yang saat itu mulai diterapkan oleh pemerintah Habibie atas desakan Dana Moneter Internasional (IMF). Sayang, kebijakan neoliberal itu makin mengalir deras di bawah pemerintahan Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Jokowi-JK saat ini.

TUJUAN DAN POKOK-POKOK PERJUANGAN

Tujuan PRD adalah mewujudkan masyarakat adil makmur tanpa penindasan manusia atas manusia penindasan bangsa atas bangsa.  Adapun pokok-pokok perjuangan PRD adalah sebagai berikut:

1. Membangun kekuasaan politik secara konstitusional untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian

2. Memimpin dan atau terlibat aktif dalam menuntaskan perjuangan demokrasi nasional.

3. Memimpin dan atau terlibat aktif dalam menggalang persatuan nasional melawan imperialisme.

IDEOLOGI

Pada awal berdirinya, PRD mengambil azas Sosial-Demokrasi Kerakyatan (Sosdemkra). Dengan ini, PRD mencita-citakan sebuah bangunan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial.  Pada tahun 2010, melalui kongresnya yang ke-7, PRD mengganti azas Sosdemkra dengan Pancasila. Bagi PRD, Pancasila lebih luas dari Sosdemkra. Sosdemkra hanyalah cerminan dua sila dari Pancasila, yaitu sila keempat (demokrasi/mufakat) dan sila kelima (keadilan sosial). Sedangkan Pancasila mencakup lima nilai besar, yakni: Ketuhanan, Perikemanusiaan, Kebangsaan/Nasionalisme, Demokrasi/ Mufakat, dan Keadilan Sosial.

SLOGAN PERJUANGAN

Slogan PRD adalah: Pancasila Dasarnya, Trisakti Jalannya, Republik Indonesia Keempat; Masyarakat Adil-Makmur Tujuannya!