Pemerintahan Pro Kepentingan Nasional

Program-program penuntasan revolusi nasional harus diperjuangkan agar menjadi nyata. Untuk itu, Rakyat Indonesia harus memiliki sebuah alat perjuangan politik bersama. Alat perjuangan bersama ini haruslah kuat dan efektif dalam melaksanakan program di atas. Alat ini adalah sebuah pemerintahan, dengan struktur dan infrastrukturnya, yang merupakan ruang bagi seluruh golongan bermufakat menyelesaikan persoalan nasional: neoliberalisme. Inilah yang oleh Bung Karno disebut sebagai sammenbundeling van alle revolutionaire krachten.

Perlahan tapi pasti, situasi obyektif tergambar dalam bentuk fakta dan pengetahuan tentang hilangnya kedaulatan negeri ini. Tentu ada banyak cerita yang dihembuskan oleh pihak lawan untuk mendistorsikan kenyataan ini. Tapi, seperti kata pepatah leluhur, sepandai-pandainya tupai meloncat akhirnya jatuh juga. Sepandai-pandainya penguasa berbohong, dari pengalaman pula rakyat mengetahui fakta yang sebenarnya. Keadaan-keadaan ini berakumulasi dan merangkai menjadi konsep yang hidup dan bekerja, mendesak setiap orang untuk bersikap, apakah berpihak pada kepentingan nasional, atau berpihak pada kepentingan asing. Tak ada tempat bagi kaum peragu dalam pemerintahan ini.

Metode Perjuangan

Metode perjuangan adalah langkah demi langkah, dari kita semua, Bangsa Indonesia, tanpa membedakan latar belakang masing-masing, untuk memenangkan satu hal, yaitu kedaulatan nasional. Bung Karno pernah menyimpulkan dua metode perjuangan menuju kemerdekaan, yaitu massa aksi dan membangun kekuasaan (macthvorming).

Massa aksi, sebagaimana dikatakan oleh Bung Karno, bukanlah sesuatu yang akan terjadi nanti, suatu gelombang besar massa rakyat di waktu mendatang, seperti yang terjadi di tahun 1998. Bukan itu yang dimaksud. Massa aksi adalah aktivitas revolusioner sehari-hari. Revolusioner dalam pengertian sikap politik yang membenarkan diperlukannya segera, secepat-cepatnya, perubahan haluan perjalanan bangsa, dari jalan kolonialisme dan neoliberalisme, menuju jalan kedaulatan nasional. Atas sikap politik tersebut, teremban konsekuensi-konsekuensi praktis yang diatasi bersama, Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing.

Perjuangan massa aksi yang terjadi pada hari-hari ini mewujud dalam berbagai bentuk, mulai dari menulis untuk berbagai penerbitan, selebaran atau bacaan, menyebarkan bacaan-bacaan kepada rakyat, menyelenggarakan rapat-rapat, diskusi-diskusi, mengadakan aksi demonstrasi, vergadering, mimbar-mimbar kebudayaan, dan lain-lain. Dalam massa aksi, segenap rakyat menjadi unsur pembangun organisasi-organisasi massa dan organisasi politik, meluaskan anggota dan memberi mutu pada organisasinya. Massa aksi bukanlah aktivitas rutinitas biasa, melainkan sebuah aktivitas terencana dalam kesatuan semangat berlawan, kesatuan semangat pembebasan nasional. Karena sifatnya yang terencana itu, maka massa aksi ini akan selalu memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru. Semua ini berguna dan mendukung metode perjuangan yang kedua, yaitu macthvorming.

Macthvorming, atau menyusun kekuatan, merupakan capaian dialektis dari massa aksi. Dalam metode macthvorming terkandung prinsip kewenangan atas ruang untuk berpropaganda dan mengorganisasikan kekuatan politik yang konsisten berpihak pada kepentingan rakyat. Proses macthvorming ini dapat dilakukan melalui intervensi ruang-ruang elektoral, atau celah politik lainnya dalam demokrasi borjuis saat ini. Macthvorming juga dilakukan dengan mendorong bentuk demokrasi partisipatoris, yaitu demokrasi yang melibataktifkan rakyat dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah-masalahnya.

Secara terang-terangan kita nyatakan kekuasaan politik sebagai sasaran dalam perjuangan pembebasan nasional, pada berbagai level. Kita tidak ingin mengkorup defenisi kekuasaan, bahwa segala jenis kekuasaan pastilah korup. Tidak, karena bagi kita tiap-tiap kekuasaan mempunyai keberpihakan sendiri-sendiri. Sedangkan korupsi telah inheren berada dalam kapitalisme, sistem tempat kita hidup saat ini. Kekuasaan tidak akan menjadi korup bila diarahkan untuk membangun tata masyarakat yang produktif, sehingga tidak ada seorangpun (kecuali anak-anak dan orang jompo) dibiarkan menjadi pengangguran dan setiap orang mendapatkan imbalan sesuai andilnya.

Mari, dengan bersemangat kita pekikkan kembali kemerdekaan. Merdeka yang sebenar-benarnya bagi seluruh rakyat Indonesia: ADIL MAKMUR TANPA PENINDASAN MANUSIA ATAS MANUSIA DAN BANGSA ATAS BANGSA.

Jakarta, 27 Juli 2010