II. KAWAN DAN LAWAN

Soekarno pernah berkata, “revolusi apapun mestilah punya kawan dan punya lawan, dan kekuatan-kekuatan revolusi harus tahu siapa kawan dan siapa lawan”. Ini adalah salah satu hukum dari sebuah revolusi, yaitu adanya pertentangan.

Siapa kawan? Penjajahan, akan melahirkan perjuangan pembebasan. Kesadaran kebangsaan, dalam perjuangan kemerdekaan, telah memperluas perlawanan di seluruh penjuru tanah air, bahu membahu di antara kekuatan yang ada, petani, kaum miskin kota dan desa, buruh yang berlawan, pemuda nasionalis revolusioner, pengusaha nasional yang tidak tergantung pada modal asing, pengusaha kecil menengah, organisasi politik yang berjuang untuk kemandirian bangsa, organisasi massa yang menolak penjajahan, media massa yang berpihak pada kepentingan nasional. Inilah kekuatan inti yang akan berjuang bersama-sama merebut kedaulatan dari cengkeraman penjajahan.

Kawan adalah siapa-siapa atau kekuatan-kekuatan dalam negeri yang melawan imperialisme dan memihak kepentingan nasional. Mereka adalah sektor-sektor yang telah menjadi korban dari neoliberalisme dan bersedia untuk melakukan perlawanan terhadap berbagai praktik imperialisme.

Selain korban langsung neoliberalisme, terdapat juga kekuatan-kekuatan politik yang menyimpan keprihatinan dan bersiap melawan imperialisme, misalnya kalangan intelektual progressif, kaum agamawan, para seniman, dan kalangan militer.

Siapa Lawan? Dari pertentangan pokok itu, maka sudah jelas pula siapa musuh-musuh paling pokok dalam revolusi nasional rakyat Indonesia saat ini. Mereka adalah instrumen penghisapan neoliberal terhadap rakyat Indonesia. Atau yang berada dalam kesatuan sistem tersebut untuk merawat ketidaktahuan rakyat sambil mengadu-domba. Di sini terdapat negara imperialis AS sebagai kelanjutan dari misi kolonialisme di masa lalu. Terdapat juga korporasi raksasa MNC/TNC yang menggerus kekayaan nasional. Kemudian agen penyelenggara imperialisme seperti IMF, WTO, dan Bank Dunia.

Di dalam negeri, kita temukan tiap pemerintahan yang pro-asing sebagai lawan. Praktik neoliberalisme akan mustahil berhasil dipraktekkan di Indonesia jikalau tidak ada sokongan politik dari dalam, yaitu lapisan politik yang telah mengkhianati kepentingan nasional dan malah memihak kepentingan asing. Kita juga dapat menemukan pengusaha-pengusaha pro-asing. Dalam lapisan borjuasi Indonesia, ada borjuis komprador dan kapitalis birokrat yang anti-nasional, dan adapula borjuis nasional yang bukan komprador.

Borjuis komprador adalah lapisan borjuis yang langsung mengabdi pada kepentingan dan mendapat jaminan dari kaum imperialis. Mereka sangat bergantung kepada bantuan atau belas kasihan dari kaum imperialis dan perusahaan besar multinasional, sehingga politik mereka adalah melawan kepentingan nasional.

Selanjutnya, kapitalis birokrat adalah mereka yang menjadi kapitalis karena kedudukannya di dalam pemerintahan atau perusahaan negara, seringkali menjadi kaya dan berkembang bisnisnya karena praktik korupsi dan suap.

Baik borjuis komprador maupun kapitalis birokrat, kedunya adalah anti kepentingan nasional, anti-rakyat, dan memusuhi demokrasi, sehingga lebih tepat disebut sebagai pengusaha pro-asing.

Sebaliknya, ada pula borjuis nasional yang menjadi korban dari neoliberalisme, yaitu borjuis yang kepentingan bisnisnya berkontradiksi langsung dengan kepentingan imperialis.

Di dalam maupun luar negeri, dapat kita temukan lembaga-lembaga yang bekerja untuk kepentingan asing. Di dalamnya, terdapat organisasi massa, LSM, lembaga penerbitan, lembaga survey, dan sebagainya, yang pengabdiannya adalah untuk kepentingan imperialisme. Mereka biasanya mendapatkan bantuan dana dari negeri-negeri imperialis, untuk menjalankan kegiatan atau mengusung isu/kampanye yang menyerang kepentingan nasional, menciptakan kondisi depolitisasi, dan memecah-belah persatuan nasional.

Organisasi-organisasi reaksioner dan fundamentalis, yang seolah-olah menentang imperialisme dan kapitalisme tapi tindakan politiknya selalu berusaha mengacaukan atau memecah belah persatuan nasional, sebetulnya adalah agen-agen imperialisme juga.

Siapa Kaum Peragu? Tidak dapat dinafikan, bahwa dalam setiap perjuangan akan selalu muncul golongan bimbang atau peragu. Di sini, golongan peragu didefenisikan sebagai golongan atau individu yang sudah mengerti dengan baik mengenai dampak imperialisme dan keharusan melakukan perjuangan, namun masih bersikap tidak ikut ambil bagian, alias netral, dalam perjuangan melawan imperialisme.