B. Di Bawah Belenggu Neokolonialisme Baru

Pergeseran Dari Unipolar ke Multipolar

Krisis kapitalisme, dan dunia yang berganti rupa. Begitulah perumpamaan untuk menjelaskan perubahan penting di tingkat dunia saat ini. Untuk pertama-kalinya setelah 21 tahun, dunia yang digenggam sendirian oleh imperialisme Amerika Serikat (AS), kini bergeser ke banyak kutub. Dengan penuh antusias, kita menyambut pergeseran ini sebagai pertanda hadirnya dunia baru; dari unipolarisme menjadi multipolarisme.

Sejak perang dunia kedua berakhir, AS bangkit menjadi imperialis nomor satu dunia, mengalahkan negara-negara kolonial sebelumnya. Namun kebangkitan ini masih tertahan oleh kebangkitan Soviet dan kubu sosialis di sepertiga dunia saat itu. Ada polar lain yang mampu mengimbangi. Maka, sesaat setelah runtuhnya Sovyet dan kubu sosialis di Eropa Timur, para intelektual borjuis pun bersorak girang; “Sejarah telah berakhir! Kapitalisme telah menang!”.

Melalui dominasi militer, imperialisme AS berhasil mengontrol 191 (seratus sembilan puluh satu) pemerintahan di seluruh dunia. Bersamaan dengan itu, AS berhasil mengontrol pula; (1) ekonomi dunia dan pasar finansial, (2) mengusai sumber daya alam (sumber daya utama dan sumber daya tak terbaharui).

Di bidang budaya, sebagaimana dicatat oleh cendikiawan Noam Chomsky, imperialisme AS punya cita-cita untuk mengamerika-kan kebudayaan dunia, dimana seluruh warga dunia mengikuti kebudayaan Amerika sebagai way of life-nya.

Sekarang ini, melalui rahimnya perjuangan bangsa-bangsa dan dunia ketiga, telah lahir bayinya “dunia baru”, yakni dunia multipolar. Rencana “pax americana” telah dibendung di halaman belakangnya sendiri, oleh rakyat di sejumlah negeri Amerika Latin dan Karibia, seperti Venezuela, Bolivia, Cuba, Brazil, Paraguay, Uruguay, Argentina, Ekuador dan Nikaragua.

Hampir bersamaan dengan itu, sebuah kekuatan baru pun sedang merekah di Asia Timur yaitu negeri Tiongkok. Setelah memenangkan revolusi dan memulai perjuangan berat untuk bertahan (survival), kini negeri Tiongkok sedang memperlihatkan kemajuan ekonomi, ilmu pengetahuan, kesusastraan, dan lain sebagainya.

Pergeseran ini, seperti juga pergeseran kulit bumi, menciptakan keretakan, penaikan dan penurunan, dan perubahan-perubahan struktural. Kapitalisme secara global sedang dijangkiti wabah krisis yang struktural dan berkepanjangan. Kapitalisme AS menjadi sumber penyakit ini, dan telah menularkannya ke seluruh dunia melalui sistem finansial.

Yunani, negeri tertua di dunia, hampir saja terhapus dari peta karena hutang dan kebijakan penyesuaian struktural. Selain Yunani yang meradang karena krisis, negeri-negeri lain pun sedang ditekan oleh krisis dan perlawanan rakyat pekerja seperti di Spanyol, Portugal, Rumania, dan Bulgaria.

Sampai di sini kita bisa mencatat dua kesimpulan; pertama, munculnya imbangan kekuatan baru di tingkat global, yaitu menguatnya peran Tiongkokdan Rusia, blok progressif Amerika Latin dan Negara Karibia (CELAC), ada juga Iran di Timur Tengah, dan independensi politik negara-negara Afrika di pan-Afrika. Kedua, Krisis kapitalisme global turut menurunkan popularitas AS, di samping kegagalan mereka mencaplok penuh Irak dan Afghanistan.