Pembangunan Nasion (1945-1965)

Alangkah membanggakan jiwa kemerdekaan Bangsa Indonesia ini. Untuk pertama kalinya dalam sejarah beratus-ratus tahun perjuangan negara jajahan, rakyat Indonesia bisa mencapai kemerdekaan tanah-air. Proklamasi kemerdekaan itu adalah pekik “berhenti” kepada penjajahan.

Sangat membanggakan pula, karena kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari pihak kolonialis, melainkan hasil perjuangan yang gigih dari Rakyat Indonesia dan terutama, para pemuda revolusioner. Pemuda-pemuda revolusioner inilah yang sesudah mendengar kekalahan Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945, mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan dan berdirinya Republik Indonesia yang berdaulat, 17 Agustus 1945.

Hanya sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pihak kolonialis mulai berbalap untuk kembali menguasai dan menjajah Indonesia. Usaha ini dilawan dengan gagah berani oleh pemuda dan rakyat Indonesia. Hanya dalam sehari itu pula, negara muda ini berhasil menyusun dan menyempurnakan syarat-syarat sebagai negara modern, yaitu menyusun konstitusi Republik Indonesia (UUD), memilih presiden dan wakil presiden, dan membentuk parlemen sementara (dalam hal ini, Komite Nasional Indonesia Pusat-KNIP). Kaum terpelajar di daerah-daerah mulai membentuk pemerintahan setempat dan menyatakan dukungan kepada pemerintahan Republik, yang dipimpin Sukarno-Hatta.

Di lapangan ekonomi, semua milik imperialis, perkebunan-perkebunan, tambang-tambang, pabrik-pabrik, bank-bank dan alat-alat pengangkutan disita Republik. Meskipun, karena berbagai tekanan dari agresi pihak musuh, perusahaan-perusahaan tersebut beralih tangan kembali atau ditinggalkan.

Di Lapangan Ikada, Jakarta, 19 September 1945, Sukarno menegaskan kembali kemerdekaan Indonesia di hadapan puluhan ribu massa rakyat; “Kita akan tetap mempertahankan kemerdekaan kita. Kita tidak akan mundur satu patah kata pun. Sekali merdeka tetap merdeka!”

Buah dari perjuangan rakyat di segala lini adalah membesarnya tenaga-tenaga revolusi nasional di seluruh aspek kehidupan rakyat Indonesia. Kita, bangsa Indonesia memekikkan “Merdeka atau Mati”.

Perjuangan rakyat Indonesia sampai tahun 1950, mengikuti penamaan Bung Karno, disebut sebagai revolusi fisik atau tahap mempertahankan kekuasaan yang berhasil direbut dari tangan imperialis. Meskipun, patut dicatat, capaian perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949 merugikan pihak Republik. Hasil perundingan tersebut antara lain menyatakan tanah Papua tetap menjadi jajahan Belanda, dan utang kolonial harus dilunasi oleh Republik.

Selanjutnya, tahun 1950-1955 disebut sebagai tahap survival, yaitu periode bertahan dari penderitaan dan luka-luka akibat kolonialisme. Republik baru ini hampir saja dikoyak-koyak oleh provokasi imperialis, baik melalui gerakan separatis di berbagai daerah maupun sabotase ekonomi dan politik, namun ternyata kita sanggup bertahan dan melewati itu. Bahkan, di tahun 1955 kita sanggup menjalankan pemilu secara aman dan demokratis.

Tahap ketiga, yaitu tahun 1956, disebut juga tahun penentuan ( “a year of decision”), merupakan tahap untuk menghentikan penyelewengan-penyelewengan dan membetulkan arah perjuangan bangsa kita. Kemudian tahun 1959 disebut sebagai tahun “penemuan kembali revolusi kita” (rediscover our revolution).

Dalam tahap ini, perjuangan nasional kita telah berhasil melikuidasi hasil perjanjian KMB, menghapus utang-utang Hindia-Belanda, merebut kembali asset-aset strategis dari tangan imperialis, dan berjuang untuk bergabungnya Papua dengan Republik. Pada tahun 1961, telah diletakkan proyek besar bernama Sosialisme Indonesia.

Periode ini kita sebut sebagai perjuangan membangun nasion dan karakter bangsa Indonesia (national and character building). Sebagai bagian dari itu, telah dirumuskan tiga prinsip utama perjuangan nasional, yaitu Tri Sakti; berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian secara budaya.

Semangat Tri Sakti tidak hanya digunakan untuk perjuangan nasional di dalam negeri, namun juga dalam politik internasional.