Manifesto Partai Rakyat Demokratik

Menuju Masyarakat Adil Makmur

Tanpa Penindasan Manusia Atas Manusia Dan Bangsa Atas Bangsa

I.             JALAN PANJANG MEMBANGUN NASION

A.            Pasang Surut Membangun Nasion

Tahap pasang surut membangun nasion di masa feodalisme

Sejarah bangsa-bangsa di Nusantara adalah juga sejarah membangun persatuan dalam menghadapi penjajahan asing. Sebagai sebuah peradaban, masyarakat Nusantara sudah memiliki cara produksi yang mandiri yaitu gotong-royong dan terbuka pada pengaruh luar yang tidak eksploitatif. Interaksi antar kerajaan-kerajaan Nusantara sendiri semakin dipertajam melalui hubungan perdagangan. Hubungan ini kian lancar karena semakin terintegrasinya kepentingan ekonomi, politik dan budaya di Nusantara, meskipun proses integrasi ini bisa disertai penaklukan. Sejarah mencatat adanya kemajuan-kemajuan dari proses integrasi itu seperti konsep Bhineka Tunggal Ika dan terbentuknya bahasa pergaulan terutama di dunia dagang di Nusantara yang menjadi cikal bakal bahasa Persatuan Indonesia.

Interaksi dengan peradaban luar itu diakui telah memajukan tenaga produksi, tetapi juga membentuk masyarakat feodal hirarkis-asiatik. Pengaruh kebudayaan luar, India dan Tiongkok, kemudian Islam tampak begitu kuat dalam tata sosial dan politik di Nusantara sampai pada datangnya bangsa-bangsa penjajah dari Barat yang dengan ganas menghancurkan impian raja-raja kecil di Nusantara pasca ambruknya Negara Maritim Majapahit untuk membangun kota-kota dagang yang berpengaruh. Walau begitu di tengah gencarnya proses kolonisasi yang mulai mengarah ke Nusantara pasca Malaka jatuh ke tangan Portugis, 1511, karakter Nusantara yang bersatu tetap muncul dan bertahan. Adipati Unus alias Pangeran Sabrang Lor tampil memimpin persatuan bangsa-bangsa di Nusantara menghadapi  intervensi asing.

Penghancuran oleh kolonialisme

Namun kerajaan-kerajaan Nusantara terbukti tidak sanggup melawan intervensi kolonialisme Barat. Satu persatu dengan politik adu domba ditekuk atau dipaksa bertekuk pada sang penjajah dari negeri kecil di Eropa, yang kita kenal sebagai Belanda. Hindia Belanda menggantikan Nusantara. Nusantara semakin tak lagi dapat diingat di bangku sekolah bersamaan dengan proses penghancuran peradaban Nusantara oleh kolonialisme. Penindasan, penghinaan dan pelecehan akibat  kolonialisme menimbulkan kesadaran sebagai bangsa senasib-sepenanggungan. Max Havelar, karya Multatuli semakin menyadarkan banyak kaum terpelajar tentang kondisi keterjajahan dan betapa menderitanya rakyat Hindia Belanda.

Kesadaran Nasional yang bersifat modern muncul pada  pendirian Serikat Priyayi, 1907, dengan pimpinan Tirto Adhi Soerjo. Bersama Medan Prijaji, Tirto Adhi Soerjo mendorong kembali bahasa Melayu yang dikenal rakyat Nusantara sebagai bahasa lingua franca menjadi bahasa untuk membangkitkan kesadaran nasional akan adanya kolonialisme. Sejak itu pergerakan nasional untuk kemerdekaan tumbuh berkembang di pelosok Nusantara melawan penjajahan, hendak merobohkannya dan mendirikan Negara baru yang merdeka, adil dan makmur bernama Indonesia, Indonesia yang tentu saja berbeda 180 derajat dengan Hindia Belanda yang terjajah. Penemuan Indonesia ini, sebagai tanah air baru dengan cita-cita baru tentu saja adalah bagian dari semakin berkembangnya tuntutan politik  untuk kemerdekaan yang oleh Bung Karno disebut sebagai Jembatan Emas.

 

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9