Tolak Imperialisme, Kader PRD Demo Terminal BBM Pertamina

Aksi PRD Siantar_KompasPEMATANGSIANTAR, KOMPAS.com — Belasan orang yang menyebut dirinya kader Partai Rakyat Demokratik (PRD) Pematangsiantar mendemo terminal bahan bakar minyak (BBM) Pertamina di Jalan Bola Kaki, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Senin (8/7/2013).

Sambil membawa bendera partai mereka, para aktivis PRD langsung menuju pintu gerbang terminal BBM. Mereka disambut dan dihadang puluhan aparat Kepolisian Resor Pematangsiantar. Para demonstran menggelar orasi secara bergantian, menyampaikan pernyataan mereka terkait gerakan nasional Pasal 33 UUD 45.

Dalam orasinya, Ketua PRD Pematangsiantar Parluhutan Banjarnahor mengatakan, pemerintah saat ini sangat gandrung kepada liberalisme ekonomi. Situasi ini, menurutnya, membuka peluang terjadinya apa yang disebut VOC berbaju baru.

“Penjajahan bentuk baru tengah terjadi. Lihatlah Indonesia saat ini menjadi sumber atau penyedia bahan baku bagi negara kapitalis. Ekspor kita hampir semua bahan mentah seperti batu bara, minyak, gas, bauksit, karet, dan minyak kelapa sawit,” kata Parluhutan.

Selain itu, kata Parluhutan, Indonesia saat ini menjadi surga penanaman modal asing, tempat pemasaran hasil produksi negara maju dan penyedia tenaga kerja murah.

“Padahal, jika negara dan pemerintah konsisten menjalankan Pasal 33 UUD 45, maka tidak perlu terjadi hal-hal di atas yang merupakan ciri kolonialisme dan imperialisme,” kata Parluhutan kemudian.

Untuk itu, menurutnya, PRD sebagai salah satu kekuatan nasional yang anti-imperialisme menyatakan sikap bahwa penyelenggara negara sekarang sudah melenceng dari tujuan dan cita-cita nasional. Pemerintah sekarang telah mengkhianati semangat konstitusi, khususnya Pasal 33. Pemerintah SBY-Boediono dinilai tidak bisa menyejahterakan rakyat.

Pedemo mengajak seluruh rakyat berjuang bersama-sama menghentikan pemerintah yang patuh dan tunduk pada imperialisme. Sementara itu, seusai menyampaikan pernyataan sikap, massa PRD yang melakukan aksi hampir satu jam itu membubarkan diri sambil berkonvoi menggunakan sepeda motor dan angkutan roda empat mengitari jalan protokol.

Sumber: Kompas, Senin, 8 Juli 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam. Wajib Dijawab! * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.