Sambutan Ketua Umum PRD

Agus ‘Jabo’ Priyono, Ketua Umum KPP-PRD Periode 2010-2015

Atas nama seluruh pimpinan PRD, juga seluruh kader dan anggota PRD di mana saja berada, saya mengucapkan selamat bergabung bersama Partai Rakyat Demokratik dan marilah kita berjuang bersama-sama untuk membebaskan Indonesia dari imperialisme dan kolonialisme, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur, menghapuskan penindasan manusia atas manusia serta penindasan bangsa atas bangsa”.

Sebelumnya, dalam manifesto yang dikeluarkan tanggal 22 Juli 1996, PRD telah memberikan kesimpulan yang sangat tepat mengenai persoalan rakyat Indonesia saat itu. Dibuka dengan kalimat yang menyimpulkan situasi pokok “Tidak ada demokrasi di Indonesia”, sebuah kesimpulan yang sangat tepat dan akurat untuk saat itu.

Namun sekarang ini, setelah perjuangan massa rakyat berhasil menggulingkan rejim Soeharto, angin liberalism bertiup sangat kencang dan menerjang segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ada yang mengatakan, bahwa demokrasi telah dipulihkan dan Indonesia menjadi salah satu negara paling demokratis di dunia.Namun, kenyataan menunjukkan pula dengan sangat terang, bahwa kemiskinan dan penindasan hak-hak rakyat juga semakin intensif dan mendalam. Demokrasi yang dihasilkan adalah demokrasi liberal, sebuah tipe demokrasi yang hanya menjaga kepentingan pemilik modal, sementara mayoritas rakyat dipinggirkan dari kehidupan politik.

Bersamaan dengan masuknya kembali penjajahan baru, atau biasa kami sebut dengan istilah “rekolonialisme”, nilai-nilai dasar dan fundamen kebangsaan kita telah dihancurkan sedemikian rupa, termasuk konstitusi UUD 1945, Pancasila, dan prinsip-prinsip sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.

Ada puluhanUndang-Undang pesanan asing, yang pada implementasinya mengesahkan perampokan sebagian besar kekayaan alam Indonesia oleh perusahaan multinasional, membiarkan eksploitasi tenaga kerja murah di Indonesa, menghancurkan dan merontokkan pasar di dalam negeri, dan menjadikan Indonesia sebagai ladang yang subur bagi investasi dari luar. Inilah realnya penjajahan baru itu. “Cara pengeduk yang berubah”, demikian dikatakan Bung Karno, namun tujuan dan dampaknya bagi kehidupan rakyat tetap sama.

PRD sangat menyadari kenyataan itu. Dan, melalui kongres PRD ke-VII pada bulan Maret 2010 lalu PRD kembali merumuskan dengan tepat problem pokok rakyat Indonesia saat ini; penjajahan baru. Kongres PRD juga berhasil menyimpulkan tugas-tugas politik seluruh kekuatan-kekuatan nasional dan demokratis di dalam negeri, yaitu merebut kembali kedaulatan nasional sebagai pembuka jalan menuju masyarakat sosialisme Indonesia.

Dengan tegas dan gamblang pula Manifesto politik PRD yang baru menegaskan soal problem pokok rakyat Indonesia, menetapkan siapa musuh dan siapa kawan dalam perjuangan nasioanal saat ini, tahap perjuangan rakyat Indonesia saat ini, program perjuangan, dan strategi dan taktik perjuangannya.

Demikian pula dengan keputusan kongres PRD untuk menjalankan “party building”, sebuah strategi untuk menjadikan PRD sebagai partai politik alternatif yang beranggotakan luas rakyat Indonesia. Melalui strategi ini, PRD berusaha memangkas jarak antara partai dan massa, dan akan berusaha hadir di tengah-tengah massarakyat Indonesia (kampung-kampung, pabrik-pabrik, desa-desa, kampus, sekolah, dan lain sebagainya).

Terakhir, kami mengutip perkataan Bung Karno pada tahun 1950; “Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya sitiga warna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat.”

Hentikan Neoliberalisme, Rebut kembali kedaulatan nasional

Jakarta, 24 September 2010

Agus Priyono

Ketua Umum